Oleh Arief Firhanusa
PSSI kini dikelilingi oleh pengurus-pengurus yang tak punya jatidiri, dan memproduksi hal-hal lucu sehingga kompetisi di negeri ini pun aneh dan berantakan.
DIAKUI atau tidak, Ganang Ismail adalah salah satu pioner profesionalisme sepakbola di negeri ini. Pemikirannya soal “sepakbola yang menghibur tanpa menyakiti rakyat” sudah membuncah tatkala Liga Indonesia baru seumur jagung, melalui PSIS yang meminang pemain-pemain layak jual macam Arilson de Oliveira dan Wellington Reis pada musim kedua Liga Indonesia.
Itu makanya ketika persepakbolaan kita mulai dirasuki unsur APBD, Ganang tak habis pikir sebab “kompetisi profesional” tak ada kaitannya dengan uang rakyat. “Lucu kalau mengaku pro, tetapi didanai APBD,” katanya berulang-ulang, sejak bertahun-tahun silam.
Perkara “lucu” yang lain – kali ini ia ucapkan di kantornya, PT Puri Sakti, Jalan Teuku Umar, kemarin sore – PSSI juga memproduk hal-hal aneh, umpama menciptakan kompetisi yang diikuti 24 klub, pengurus PSSI yang tak memedulikan hasil KLB PSSI di Bali, serta munculnya dualisme kompetisi yang menggelikan.
“Kongres (PSSI) di Bali memutuskan Kompetisi ISL diikuti 18 klub. Bayangkan bila kompetisi diikuti 24 klub, tentu mereka kepayahan sebelum kompetisi berakhir. Lalu kini ada LPIS yang seolah-olah dipaksakan digelar,” paparnya.
Di Kongres Bali pula, disepakati Superliga Indonesia dikelola oleh PT Liga Indonesia, dengan kontestan yang jelas. Namun, masih kata Ganang, mendadak ada PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS) yang membuat klub-klub terpecah belah. “Bahkan ada Persija tandingan, Persebaya tandingan, dan sebagainya,” ucapnya.
Pengurus PSSI era Djohar Arifin Husin, imbuh putra mantan Gubernur (alm) Ismail ini, nyaris semuanya tak punya kepribadian, tak punya jatidiri. Pun begitu, seharusnya pengurus yang dipilih di KLB Solo pada Juli tahun ini hanya tinggal mengaplikasikan hasil KLB Bali, siapapun Ketua Umum PSSI. Tapi, yang terjadi malah melenceng.
“Masyarakat Indonesia akhirnya kini tahu adanya keberpihakan mereka (pengurus PSSI era Djohar) pada satu pihak, tanpa mempertimbangkan kepentingan persepakbolaan lebih luas,” cetus pria kelahiran 21 September 1958 tersebut.
Ganang menyodorkan fakta tidak kontraproduktif saat Djohar Arifin yang baru saja dilantik mendadak memberi keterangan pers yang amat tidak profesional, dengan mengatakan bahwa pihaknya memecat pelatih timnas Alfred Riedl, dengan alasan Riedl dikontrak bukan atas nama PSSI.
Pemain Paham Mana Terbaik
PSSI kini dikelilingi oleh pengurus-pengurus yang tak punya jatidiri, dan memproduksi hal-hal lucu sehingga kompetisi di negeri ini pun aneh dan berantakan.
DIAKUI atau tidak, Ganang Ismail adalah salah satu pioner profesionalisme sepakbola di negeri ini. Pemikirannya soal “sepakbola yang menghibur tanpa menyakiti rakyat” sudah membuncah tatkala Liga Indonesia baru seumur jagung, melalui PSIS yang meminang pemain-pemain layak jual macam Arilson de Oliveira dan Wellington Reis pada musim kedua Liga Indonesia.
Itu makanya ketika persepakbolaan kita mulai dirasuki unsur APBD, Ganang tak habis pikir sebab “kompetisi profesional” tak ada kaitannya dengan uang rakyat. “Lucu kalau mengaku pro, tetapi didanai APBD,” katanya berulang-ulang, sejak bertahun-tahun silam.
Perkara “lucu” yang lain – kali ini ia ucapkan di kantornya, PT Puri Sakti, Jalan Teuku Umar, kemarin sore – PSSI juga memproduk hal-hal aneh, umpama menciptakan kompetisi yang diikuti 24 klub, pengurus PSSI yang tak memedulikan hasil KLB PSSI di Bali, serta munculnya dualisme kompetisi yang menggelikan.
“Kongres (PSSI) di Bali memutuskan Kompetisi ISL diikuti 18 klub. Bayangkan bila kompetisi diikuti 24 klub, tentu mereka kepayahan sebelum kompetisi berakhir. Lalu kini ada LPIS yang seolah-olah dipaksakan digelar,” paparnya.
Di Kongres Bali pula, disepakati Superliga Indonesia dikelola oleh PT Liga Indonesia, dengan kontestan yang jelas. Namun, masih kata Ganang, mendadak ada PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS) yang membuat klub-klub terpecah belah. “Bahkan ada Persija tandingan, Persebaya tandingan, dan sebagainya,” ucapnya.
Pengurus PSSI era Djohar Arifin Husin, imbuh putra mantan Gubernur (alm) Ismail ini, nyaris semuanya tak punya kepribadian, tak punya jatidiri. Pun begitu, seharusnya pengurus yang dipilih di KLB Solo pada Juli tahun ini hanya tinggal mengaplikasikan hasil KLB Bali, siapapun Ketua Umum PSSI. Tapi, yang terjadi malah melenceng.
“Masyarakat Indonesia akhirnya kini tahu adanya keberpihakan mereka (pengurus PSSI era Djohar) pada satu pihak, tanpa mempertimbangkan kepentingan persepakbolaan lebih luas,” cetus pria kelahiran 21 September 1958 tersebut.
Ganang menyodorkan fakta tidak kontraproduktif saat Djohar Arifin yang baru saja dilantik mendadak memberi keterangan pers yang amat tidak profesional, dengan mengatakan bahwa pihaknya memecat pelatih timnas Alfred Riedl, dengan alasan Riedl dikontrak bukan atas nama PSSI.
Pemain Paham Mana Terbaik
Adanya dua kompetisi di negeri ini pada kepemimpinan Djohar Arifin, menciptakan sisi kelam persepakbolaan nasional. Tetapi, menurut Ganang, publik sepakbola Indonesia bisa memilah mana ajang bermutu, mana yang tidak.
“Harus diakui ISL terisi klub-klub berkualitas, dengan sejarah kuat masing-masing klub. Sementara LPIS, kalaupun diisi sejumlah klub eks perserikatan, itu tak lebih PSM, Persebaya, Persema yang bermasalah karena pernah dihukum PSSI era Nurdin Halid karena ikut LPI sehingga kemudian muncul ‘balas budi’ dari pengelola LPIS untuk mengikusertakan ketiganya di kompetisi yang mereka kelola sekarang (LPIS),” ujar Ganang.
ISL, dengan statusnya sebagai anak tiri PSSI dan justru notabene diperkuat banyak pemain bintang, tak akan membuat pemain-pemain nasional di sana resah. “Bagi pemain, situasi ini tak membuat mereka gundah. Mau dipakai untuk timnas atau tidak, PSSI mau mengakui ISL atau tidak, mereka cuek saja. Para pemain itu tahu ada yang tak benar di tubuh PSSI,” ungkapnya.
Wajib KLB
Merunut kondisi terkini, Ganang berharap PSSI tidak melakukan upaya perlawanan terhadap gelombang desakan digelarnya kongres luar biasa (KLB) guna meluruskan banyak hal melenceng.
“KLB wajib digelar untuk membahas program-program baru untuk penyegaran. Saya kira PSSI tak bisa berbuat apa-apa – terlebih mencegah berlangsungnya KLB – sebab mereka yang menginginkan KLB adalah unsur-unsur dan elemen-elemen resmi PSSI. Jumlah mereka yang hadir dalam rapat akbar sepakbola nasional yang digelar Forum Pengprov PSSI (FPP) sangat memenuhi kuorum, sehingga legitimed,” tutur Ganang.
Lepas dari semuanya, carut marut ini menurutnya adalah bagian dari pendewasaan dan pematangan persepakbolaan nasional beserta insan-insan pengelolanya.
“Biarkan nanti timbul keseimbangan dengan sendirinya, toh prestasi kita di kancah internasional juga belum bagus-bagus amat, jadi banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan. Semua yang merasa memiliki sepakbola nasional harus berjiwa besar,” tutup Ganang. ***






Posting Komentar
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.