Oleh Wiwig Prayugi
Dua kubu yang menjadi aktor konflik sepakbola Indonesia terus adu kekuatan. Seolah melupakan kepentingan nasional, pengusung KLB dan PSSI tetap
KOMENTAR pedas dilontarkan pelatih senior Semarang, Sartono Anwar. Direktur Teknik Persibo Bojonegoro itu semakin kesal melihat situasi sepakbola Indonesia yang terus memanas. Bahkan, ia pun berani melemparkan sindiran kepada orang-orang yang bermain di lingkaran kepentingan yang mengatasnamakan sepakbola.
“Orang-orang itu dikaruniai kepintaran, kekayaan, dan kedudukan, tetapi mereka keblinger. Mereka merusak hiburan rakyat, bahkan sekarang semakin kentara kepentingan di 2014,” tegas Sartono kepada Harsem.
Sartono, saat ini menjadi penolak klub LPI. Bahkan saat rezim Nurdin Halid pun ia selalu berteriak kencang. Namun, kali ini PSSI pun tak luput dari kritikan ayah mantan pemain nasional, Nova Arianto itu. PSSI tak ubahnya diperebutkan dua kubu (baca: Arifin Panigoro versus Nirwan Bakrie) yang saling mendendam. Seharusnya, perusak-perusak di rezim NH dihilangkan, namun peninggalan yang baik jangan malu untuk disempurnakan.
“Saya jamin mereka-mereka ini akan terus saling dendam. Misalnya saja, KLB berhasil digulirkan, kubu yang kalah pasti diam-diam menyusun kekuatan. Lha, kalau seperti kapan selesainya?” geramnya.
Merusak Bangsa
Sartono yang juga membina SSB Tugu Muda semakin miris ketika timnas Indonesia kembali menjadi korban. Ia dengan tegas menyebut orang-orang yang bermain di kepentingan sepakbola dengan emblem penjahat.
“Timnas itu milik bangsa Indonesia. Sekarang makin terjadi tarik menarik konflik LPI dan LSI. Saya sampai bosan kalau membaca berita-berita seperti itu,” lanjut Sartono yang kental dengan sejarah PSIS itu.
Ia mencontohkan, konflik pemain LSI yang tidak boleh memperkuat timnas. Di satu sisi, itu memang sesuai peraturan FIFA, namun harus diakui pemain-pemain jebolan LSI banyak yang menyumbang keringat untuk timnas.
Pembunuhan timnas yang oleh PSSI terus dipertahankan ialah hobi memakai tenaga asing. Bahkan, menurut Sartono, itu dilakukan dengan sangat bangga, dan over ekspose. Seharusnya, Indonesia malu karena tidak bisa menjadikan pemain maupun pelatih asli Indonesia untuk makin maju.
“Saya boleh bilang bangsa Indonesia ini bukan bangsa yang besar. Orang-orang di dalamnya tidak menghargai kemampuan bangsanya sendiri. Sedikit-sedikit naturalisasi, ngurus kompetisi pakai orang asing,” tutup Sartono. ***







Posting Komentar
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.